Lebih dari seminggu kemarin saya berada di desa saya tercinta, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Bali . Saya pulang untuk merayakan hari raya Nyepi (kok Nyepi dirayakan, mungkin menyambut lebih tepat ya..). Tahun ini Nyepi jatuh pada hari jumat tanggal 7 Maret.
Seperti pada umumnya rangkaian perayaan Nyepi, secara garis besar ada Mekiyis, Pengrupukan, Mati Geni, dan NGembak Geni. Di Panji, mungkin agak berbeda dengan tempat lain, mekiyis dilaksanakan pada hari Tilem Kesanga, yakni sehari sebelum Mati Geni, yang diikuti oleh seluruh umat di Desa Panji dengan mengusung praline puranya masing-masing. Mekiyis ini dimulai dari Pura Desa Panji, dan akan berakhir di Pura Segara Penimbangan Desa Panji, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 5-6 km. Tidak semua rombongan start di Pura Desa, hanya Betara Desa, para Gerebek (pasukan bertumbak pengawal dari prosesi mekiyis ini), selainnya bergabung di tengah jalan sepanjang antara Pura Desa dan Pura Segara Penimbangan.
Mekiyis yang kemarin saya ikuti, terasa kurang tertib dan kurang teratur. Masing-masing rombongan bebas menyela rombongan yang lain, dan terkesan saling mengejar, terburu-buru untuk segera sampai di tempat tujuan, sehingga semuanya terkesan berlari-larian. Kurang nyaman untuk sebuah melasti. Sesampainya di Pura Segara, kekurangteraturan terlihat kembali, dimana tidak dilaksanakan persembahyangan bersama, masing-masing rombongan sembahyang sendiri-sendiri, hanya nunas tirtanya dari satu tempat yakni di Pura Segara. Setelah itu kita bubas masing-masing, tergantung cepat tidaknya selesai melaksanakan persembahyangan. Pulangnya, masing-masing rombongan telah menyiapkan kendaraan sendiri, untuk kembali melakukan penyimpenan pralina di pura atau sanggah masing-masing.
Malamnya merupakan malam pengrupukan untuk membersihkan buana agung kita dari pengaruh-pengaruh negatif dari mahluk-mahluk yang lebih rendah dari manusia sehingga nantinya manusia dapat menjalankan ritual Brata Penyepian dengan tenang dan damai. Malam pengrupukan ini ditandai dengan pengusungan ogoh-ogoh ke seluruh pelosok desa. Ogoh-ogoh adalah perwujudan butha kala dalam bentuk boneka raksasa yang menyeramkan. Ogoh-ogoh tersebut dibuat oleh pemuda-pemudi dari banjar-banjar yang ada di Desa Panji. Desa Panji terdiri dari 6 (enam) banjar yakni Banjar Mandul, Banjar Dauh Pura (tempat tinggal saya), Banjar Dangin Pura, Banjar Kelod Kauh, Banjar Bangah, dan Banjar Babakan. Sebelum diarak ogoh-ogoh tersebut berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Desa Panji untuk mendapat pengarahan dari para tokoh desa baik Kepala Desa Dinas maupun Klian Desa Adat. Jumlah ogoh-ogoh yang hadir di lapangan tersebut mencapai 18 (delapan belas) buah, cukup banyak juga. Sepintas dari pengarahan yang diberikan olah Kepala Desa bahwa tahun depan ogoh-ogoh ini akan dilombakan, namun mekanisme perlombaannya seperti apa akan ditetapkan kemudian.
Hiruk pikuk di lapangan benar-benar terasa, masing-masing ogoh-ogoh menunjukkan kebolehannya, dalam hal ini terkait dengan instrumen-instrumen pendukung yang di bawanya. Mulai dari baleganjur, topeng celuluk, topeng rangda, serta kembang api dengan aneka jenis. Instrumen terakhir ini yang menjadi andalan ogoh-ogoh dari banjar saya karena memang kami tidak memiliki yang lainnya, hehe… Kedelapan belas ogoh-ogoh tersebut memiliki bentuk yang beragam namun secara artistik mungkin masih kurang, maklum biaya minim dan yang mengerjakan juga sebagian besar pemuda tanggung yang minim pengalaman (Maaf kalo saya salah). Beberapa ada yang bagus, terutama yang dari banjar saya (hehehe…ini serius lho, komentar objektif dari banyak orang), ada yang belum sempat diarak sudah patah dan harus dibakar di tempat, sayang sekali, pasti pemiliknya dongkol banget. Malam pegrupukan akhirnya berakhir dengan pembakaran masing-masing ogoh-ogoh setelah berkeliling, dan bersiap untuk menyambut hari Mati Geni keesokan harinya.
Dulu, sewaktu saya kecil sampai SMP kalau ga salah, Desa Panji memiliki kebiasaan unik saat Nyepi. Kelengangan jalan malah merupakan kesempatan masyarakat untuk jalan-jalan sepuasnya, mengunjungi kerabat dekat sampai maen selodor di jalan, hehe… Tapi seiring meningkatnya pengetahuan masyarakat maka kebiasaan-kebiasaan tersebut sudah mulai ditinggalkan, masyarakat semakin bisa mamaknai hari raya nyepi dan melakukan tapa brata penyepian.
Keesokan harinya, Hari Ngembak Geni, ada tradisi unik juga di desa saya ini, yakni adanya kegiatan Megoak-goakan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak kumpi saya masih muda, dan saat neneknya kumpi muda juga udah ada, he… Seinget saya megoak-goakan adalah bagian dari acara pesta rakyat ketika Raja Buleleng menabuhkan genderang perang melawan Kerajaan Blambangan, dimana goak ini boleh meminta apa saja sebelum maju ke medan perang. Entah berawal dari cerita ini, tetapi megoak-goakan lebih ke arah hiburan dan bersenang-senang.
Acara megoak-goakan terdiri dari beberapa orang yang membentuk barisan, dan saling memegang satu sama lain. Masing-masing orang memakai sabuk (ikat pinggang) yang akan menjadi pegangan orang yang dibelakangnya. Sabuk yang digunakan harus senyaman mungkin sehingga saat ditarik oleh teman tidak menyakitkan. Orang yang berada paling depan (Kepala Goak) bertugas untuk menngejar Kacang (orang yang berada paling belakang), sehingga akan terjadi tarik menarik antar pemain, bagian inilah yang membuat badan pemain akan pegal-pegal namun katanya inilah serunya permainan ini. Media bermain dalam acara megoak-goakan ini umumnya berupa tanah yang tergenangi air. Karena dilaksanakannya di lapangan Desa Pani maka untuk mengairinya maka para pemain sebelumnya harus membendung air sungai yang berada di dekatnya. Hehe..makanya saat Ngembak Geni, para petani harus mengalah karena mau ga mau air harus dialirkan ke sungai tersebut.
Megoak-goakan biasanya terbagi dua kelompok kelompok ana-anak dan kelompok remaja dan dewasa. Sumur-umur saya baru pernah ikut sekali, itu juga untuk bayar kaul gara-gara lulus ITB. Bukan apa-apa, saya masih ngeri membayangkan badan ditarik-tarik dan terkadang terpental kalau pegangan kita tidak kuat. Di samping itu badan saya rentan terserang flu, bermain-main di atas genangan air tersebut, sudah dapat dipastikan saya akan menderita flu berat (hehe…bukan pembenaran lho..).
Begitulah kira-kira Nyepi di desa saya, Desa Panji. Tradisi megoak-goakan maíz berusaha dipertahankan walaupun karena banyak faktor semakin kesini peminatnya semakin menurun. Namur saya selalu setia untuk menontonnya, walaupun dengan perasaan was-was, karena sah-sah saja mereka (para pemain) untuk menyeret dan memaksa penonton untuk ikutan bermain (serem kan…).