Happy Birthday

October 27th, 2008 by luhkitty

Nuansa romansa tak terperi disaat bersama

Menyongsong matahari terbit

Menantang teriknya sang penguasa langit

Menikmati buaian lembayung senja dan

Menanti hadirnya venus di cakrawala

 

Kebersamaan yang menyejukkan

Merasa terikat walau tak ada yang mengikat

Merasa selalu bersama walau tak bersua

Berusaha menjadi nada-nada yang beresonansi

Dalam simfoni yang terasimilasi

 

Terimakasih

Untuk tawa

Untuk waktu

Untuk rasa

Dan untuk KITA

 

Happy birthday to you…

Wish you all the best…

Obat Masuk Angin

June 26th, 2008 by luhkitty

Beberapa minggu
yang lalu, seluruh badan saya terasa lemas, ga enak banget buat beraktivitas. Sempet
bingung juga, knapa ya, tiba-tiba bangun di pagi hari dan tidak memiliki energy
untuk bergerak. Tapi dipikir-pikir sepertinya masuk angin, belakangan ini tidur
saya kurang (hanya karena kecanduan film Korea, hehehe..telat ya) dan banyak
beraktivitas di luar ruangan. Jadilah saya harus banyak istirahat, banyak makan
(ini selalu sepertinya :D), minum vitamin, minum suplemen de el el untuk
membayar semua itu. Untung di saat seperti itu ada yang memberikan perhatian
lebih, jadi ya, sakit pun bisa dinikmati :p.

Beberapa hari
kemarin, ada seorang temen yang mengeluhkan gejala yang sama, saya langsung
dengan lancar memberi  saran yang serupa
dengan yang sudah saya lalui, walaupun komunikasi kita hanya lewat YM. Tanpa sengaja
saya sering bertanya tentang keadaannya, “uda enakan blum?”, “Uda sehat?”,
sekedar basa basi awalnya, karena saya merasa baru tertimpa hal serupa. Akhirnya
dia bilang, “aku sudah sembuh, makasi atas perhatiannya”. “Perhatian itu obat
yang paling mujarab kok untuk membuat badan sehat kembali”, hehehe…khususnya
mungkin untuk gejala masuk angin seperti ini.

Kaget juga dia
bilang seperti itu, ga nyangka, tapi jika dipikir lagi, iya juga ya… Di saat
badan kita ga fit, cenderung kita akan menjadi lebih sensitif, dan perhatian
dari orang lain, khususnya teman akan sangat bermakna. Mungkin dulu kalo ga ada
yang perhatian, sembuh saya lebih lama :p. Untuk itu, mulai sekarang, jika ada
temen yang sedang ga enak badan, atau sekedar bad mood, sekedar sms atau YM menanyakan
keadaan akan sangat membantunya J.

Berwisata ke Bali saat Perayaan Nyepi

June 14th, 2008 by luhkitty

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setahun
sekali. Hari Raya Nyepi diperingati untuk menyambut pergantian Tahun Çaka yang
berselisih 78 (tujuh puluh tahun) tahun dengan Tahun Masehi. Jadi Hari Raya
Nyepi Tahun ini adalah Hari Raya Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Çaka 1930.
Sistem perhitungan Tahun Çaka dan Tahun Masehi berbeda sehingga Hari Raya Nyepi
tidak tepat jatuh pada tanggal yang sama tiap tahunnya. Tahun 2008 ini Hari
Raya Nyepi jatuh pada tanggal 7 Maret.

Hari Raya Nyepi identik dengan kesunyian, keheningan, dan perenungan akan
hal-hal yang sudah terjadi pada masa lampau. Bali sebagai daerah tujuan wisata
dunia seakan mati suri sejenak, untuk merayakan pergantian tahun ini. Seluruh aktivitas
dihentikan selama kurang lebih dua puluh empat jam. Pelabuhan, bandara,
terminal yang biasanya penuh sesak dengan aktivitas keberangkatan dan
kedatangan ditutup sementara. Hening, sepi, tenang dan tenteram.

Keheningan dan kesunyian itu tidak membuat para wisatawan urung mengunjungi
Bali saat itu. Karena dilihat dari penjualan tiket pesawat menuju Bali
menjelang Hari Raya Nyepi meningkat tajam. Disamping kepulangan dari orang Bali
yang berdomisili di luar Bali untuk berkumpul bersama keluarga, kunjungan ke
Bali juga dipenuhi oleh para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Apa
yang mereka cari? Ternyata suasana hening dan sepi tersebut menjadi daya tarik
tersendiri bagi para pecinta Bali. Suasana yang mungkin hanya bisa ditemukan di
Bali dan terjadi satu tahun sekali, tidak ingin mereka lewatkan. Mereka mencari
dan menikmati aktivitas hening tersebut, yang mungkin menjadi barang mahal bagi
mereka-mereka yang selalu dijejali rutinitas dalam kesehariannya.

Untuk menikmati suasana hening tersebut, tentunya wisatawan harus datang
beberapa hari sebelum hari H, sebelum bandara dan gerbang kedatangan lainnya
ditutup. Nyepi sendiri memiliki rangkaian ritual keagamaan beberapa hari
menjelang dan sesudah hari H yang juga sayang untuk dilewatkan. Sehari menjelang
Hari Nyepi, terdapat ritual ”Mecaru Agung”,
yakni pembersihan jagad alam dari unsur-unsur negatif sehingga kedamaian
menyelimuti bumi ini. Malam harinya akan ada parade atau arak-arakan ogoh-ogoh pada masing-masing desa adat
di Bali. Ogoh-ogoh adalah simbolisme kekuatan atau pengaruh jahat di alam ini
yang harus diminimalisir pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Ogoh-ogoh ini
umumnya diwujudkan berupa raksasa berwajah sangar dan seram, yang pada akhir
prosesi acara akan dibakar di setra
(tempat pemakaman umum) masing-masing desa adat. Desa adat adalah perangkat
desa atau kelurahan yang bertanggungjawab untuk mengurus hal-hal yang berkaitan
dengan kehidupan adat dan agama masyarakat Bali.


Ogoh1Parade ogoh-ogoh ini merupakan salah satu acara favorit saat merayakan
Nyepi, tidak hanya bagi bagi wisatawan yang menganggapnya langka tetapi juga
masyarakat Bali sendiri, khususnya kaula muda. Proses dari awal pembuatan
ogoh-ogoh sampai akhirnya diusung merupakan ajang bagi pemuda pemudi untuk
berkreasi, berusaha memberikan yang terbaik. Tidak jarang di beberapa tempat
parade ogoh-ogoh ini dilombakan. Parade ini biasanya dikoordinasikan oleh
masing-masing desa adat dan rutenya juga diatur sehingga tidak terjadi gesekan
diantara para peserta.

200705011334
Pada saat parade berlangsung, para wisatawan umumnya berusaha
mengabadikannya dalam handycam, digicam, bahkan tidak jarang diantara mereka
ingin ikut mengusung ogoh-ogoh tersebut. Biasanya wisatawan tersebut sudah
datang jauh-jauh hari sebelum parade berlangsung, sehingga bisa melakukan
pendekatan dan berbaur dengan masyarakat setempat. Ada kenikmatan tersendiri
dalam mengusung ogoh-ogoh tersebut. Kebersamaan, kegembiraan dan kehidmatan,
karena inti dari parade tersebut adalah menyucikan alam dan jiwa manusia untuk
menjadi lebih baik pada tahun selanjutnya.

Keesokan harinya, puncak Hari Raya Nyepi. Sepi. Satu hari dalam setahun
kita diperbolehkan untuk tidak melakukan apa-apa dalam hidup. Satu hari dalam
setahun kita diberikan kesempatan yang sangat leluasa untuk merenungkan hal-hal
yang sudah dan akan kita lakukan. Satu hari untuk mengistirahatkan jiwa, raga
dan roda kehidupan manusia. Inilah yang dinanti dan ingin dinikmati oleh
wisatawan yang meluangkan waktunya menyepi di Bali. Mungkin bisa-bisa saja jika
kita melakukan acara menyepi ini dimana saja. Namun ketika hanya kita yang
berhenti sementara lingkungan di sekeliling kita masih berputar dengan
kencangnya, akankah kita masih bisa mendapatkan ruang yang cukup untuk sekedar
merenung. Namun ketika di hari itu kita di Bali, lingkungan sekitar kita yang
berhenti sejenak, memberikan waktu dan ruang kepada kita manusia dalam mencari
tahu siapa dan dimana kita saat ini.

Selain mendapat keheningan dan kenikmatan yang luar biasa, keesokan
harinya, kita bisa bersantai menikmati alam dan budaya Bali, dengan pikiran
jernih setelah sehari penuh kita mengistirahatkannya. Pilihan berwisata lebih
beragam karena bukan saja kita bisa menikmati alam Bali namun atraksi ritual
dan budaya sebagai rangkain dari perayaan Nyepi banyak diselenggarakan. Di
Denpasar ada acara med-medan, dimana
antara seorang pemuda dan pemudi dipertemukan untuk berciuman di bawah guyuran
air. Tentunya bukan sembarangan cium, ada aturan adat yang mengaturnya. Selain
itu, di salah satu desa di Kabupaten Buleleng, yakni Desa Panji juga terdapat
tradisi unik sehari setelah Nyepi, yakni acara megoak-goakan. Acara tersebut melibatkan anak-anak muda di desa
tersebut. Mereka mengisi lapangan bola dengan air (membendung air sungai di
sebelah lapangan), lalu beberapa orang membentuk barisan, saling berpegangan
erat, untuk kemudian orang yang paling depan bertugas mengejar orang yang
paling belakang. Acara ini meriah karena tidak sedikit dari peserta yang
terlempar dan terbanting saat pengejaran dilakukan. Namun karena dialasi oleh air,
bantingan tidak terlalu menyisakan rasa sakit. Masih banyak ritual dan
kebiasaan lainnya dalam merayakan pergantian tahun ini.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kesenangan, namun
kesenangan tersebut akan lebih bermakna jika kita bisa meraihnya pada tiap
tahapan hidup yang kita lalui. Entah itu ketika kesunyian merengkuh maupun saat
dikelilingi oleh keramaian. Jadi segeralah susun rencana untuk menikmati
kesenangan itu, dan tidak ada salahnya itu direncanakan di bulan Maret tahun
depan.

 

10/03/08

Sempurna

June 12th, 2008 by luhkitty

Hamparan kilauan cahaya di alas dunia

Taburan bintang di cakrawala

Membentuk horizon nan menawan

Di tengah malam dan dingin yang merasuk jiwa

 

Sang bulan masih bersembunyi di balik bukit

Semburan sinar dan kehadiran venus pertanda kehadirannya

Nuansa alam nan eksotik

Dan kita duduk diantaranya

 

Dua pasang mata, dua hati menikmati pesona alam

Tangan menggenggam, hati merasa

Menikmati panorama elok di hadapan

Mensyukuri kebersamaan yang ada

 

Terimakasih Tuhan, aku dan dirinya bisa berada disini

Bersama melewati bergantinya hari

Diantara kerling bintang di langit

Merenda mimpi yang mungkin menanti

Nonton Balawan

April 13th, 2008 by luhkitty

Jumat kemarin kampus ITB kedatangan salah satu pemusik handal dan Unit Kesenian Bali Maha Gitra Ganesha (MGG) mendapat kesempatan untuk tampil sepanggung. Peristiwa langka ini membuat saya juga tetarik untuk menyaksikannya. Sekitar pukul setengah sembilan malam saya bersama teman saya sampai di kampus ITB tepatnya di Lapangan Basket, saya dapat bocoran kalau Balawan akan tampil sekitar pukul setengah sepuluh malam.

Sebelumnya saya sempat mampir ke belakang panggung, kebetulan masih kenal dengan anak-anak MGG, pengennya sih ngintip Balawan dulu. Cukup lama menunggu tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Sang Bintang. Tiba-tiba Panitia menyuruh yang bukan pemain dan panitia sendiri untuk keluar dari ruang ganti itu, ya sudahlah niat saya untuk mengintip Balawan terurungkan, saya kembali ke area panggung.

Panggungnya tanpa pagar mungkin menandakan Sang Bintang sangat dekat dengan penggemarnya, membuat saya dan teman-teman saya bisa merangsek sampai bibir panggung, mengagumi tarian jemari Balawan di atas dua gitar yang diletakkan secara terpisah. Saya tidak terlalu mengerti musik tapi menyaksikan kepiawaian dia memainkan istrumen tersebut dan mengkombinasikan dengan musik-musik pengiringnya (saat itu Balawan diiringin oleh gamelan Bali oleh MGG dan alunan Biola oleh seorang violinist), membuat saya benar-benar takjub. Terkadang dia bermain solo, namun di saat dia bermain solo, nada-nada yang keluar sepertinya dibawakan oleh beberapa orang dengan alat musik yang beragam, sungguh luar biasa benar-benar memiliki taksu. Kekecewaan saya tidak sempat mengintip dia di belakang panggung, terlupakan.

Pertunjukan usai kurang lebih pukul sebelas malam, jam tidur kampus ITB saat ini. Saya awalnya berniat langsung pulang, namun ada teriakan dari belakang panggung menyerukan kata MGG, yang membuat saya dan teman-teman saya berpaling dan melangkah menuju ke arah suara tersebut, ternyata lagi foto bersama. Saya kurang mengerti situasi hanya sekedar ikut-ikutan, habis jepret ternyata ada orang berlalu dan dikerubuti orang, eehh..ada Balawan juga ternyata tadi, hehehe…bodoh . Niat saya untuk melihat Balawan lebih dekat datang lagi. Tapi bagaimana caranya ya, dia dikerubuti banyak orang dan panitia acara sudah menggiringnya masuk ke ruang ganti tadi.

Sebenarnya saya hampir kecewa dan mengurungkan niat lagi, tapi disinilah kekaguman saya terhadap gitaris kenamaan tersebut bertambah. Dia sangat low profile, ramah dan sangat humble ke semua penggemarnya. Ruang ganti ditutup panitia dan sangat selektif mengijinkan orang untuk masuk. Tapi tak disangka malah Balawannya yang keluar menemui penggemar-penggemarnya yang terhalang dinding kaca untuk mendekatinya. Dia menyediakan waktu yang sangat leluasa bagi penggemarnya untuk tanda tangan, foto bareng, salaman, sekali lagi dengan sangat ramah, tidak mengesankan diri sebagai seorang artis yang harus dipuja dan hanya bisa dilihat dari kejauhan sambil melambaikan tangan :d. Dan saya kebagian foto
berdua dengannya. Kesampaian juga…walaupun dengan mengerahkan beberapa orang untuk membantu mendapat giliran, maklum ngantrinya agak-agak ga beraturan.

Ngompreng Maribaya-Lembang

April 9th, 2008 by luhkitty

Hari minggu kemarin, teman saya membeli kamera digital di BEC dan mendapat voucher cuci cetak foto digital sebanyak 100 lembar foto ukuran 3R sampai akhir april. Berhubung dia menetap di seberang pulau, hanya ke Bandung untuk weekend dia memberikan voucher itu kepada saya. Lumayan, sudah sangat lama saya tidak punya dokumentasi berupa hard copy, biasanya asal jepret dan disimpan di hard disk.

Akhirnya saya membuka file-file foto saya, terutama foto narcis, hehehe… Ternyata saya emang narcis, karena sebagian file foto tersebut pasti ada gambar saya, sangat jarang mengenai objek atau panorama seperti wisatawan profesional pada umumnya. Hehe..saya jadi ingat salah satu mata kuliah saya dulu, Perencanaan Pengembangan Pariwisata. Kata dosen saya yang ngasi kuliah, beda wisatawan domestik dan wisatawan manca negara terletak pada objek yang difotonya. Kalan wisatawan manca negara pasti berburu foto keren dan objek yang dikunjunginya, sedangkan kalau wisatawan domestik juga berburu foto objek namun dilengkapi dengan foto dirinya, sebagai bukti kalau dia pernah menginjakkan kakinya disana J.

Balik lagi ke topik awal, ada salah satu foto yang menarik dari folder foto saya. Tentunya bukan sekedar tampilan gambarnya, tetapi juga kenangan di balik gambar tersebut. Foto-foto yang saya maksud adalah fotoP9220066 di saat saya dan teman-teman sekantor saya kabur sore-sore dari kantor untuk jalan-jalan ke Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda atau lebih dikenal dengan sebutan Dago Pakar. Iya, jalan dalam arti harfiah karena kita merencanakan untuk berjalan kaki dari Dago Pakar sampai Maribaya dan lanjut ke Lembang.

Kami pergi berempat, dan saya cewek sendiri J. Mungkin akan lebih segar udaranya kalau kami melaksanakan perjalanan ini di pagi hari, tapi sudP9220118_1ahlah karena saan weekend, masing-masing sudah punya acara sendiri sehingga kami memilih pergi di jumat sore. Dan sepertinya perjalanan kami memang terlalu sore sehingga kami sampai di Maribaya saat matahari sudah hampir tenggelam, alias remang-remang. Tapi saya masih sempat foto, hehe…gelap kan. Suasana Maribaya hanya kami lewatkan sepintas lalu sembari istirahat sejenak untuk teman-teman saya melaksanakan ibadah sholat magrib.

Sampai di pelataran Maribaya sudah dipastikan tidak ada angkot lagi, dan wajah-wajah kami sudah menunjukkan keengganaan tingkat tinggi untuk jalan kaki menuju Lembang, ditambah suasana yang sudah gelaP9220126p. Teman saya ada ide, ngompreng!!. Semua diantara kami belum pernah merasakan ngompreng, dan semuanya excited. Mencari mobil omprengan tidak gampang, tidak semua kendaraan yang lewat mau ditumpangi, mungkin mereka juga ragu-ragu mengangkut kami, aneh wisatawan kok jalan kaki semalam ini. Cukup lama menunggu, akhirnya ada mobil pick up yang bersedia mengangkut kami, dan dreng…deng…kita naik bak terbuka malam-malam. Dingiiin…..

Seperti hal bodoh, tapi sangat menyenangkan, melakukan hal-hal yang belum atau jarang dilakukan, apalagi rame-rame. Saat di bak pick up tersebut kami langsung membicarakan, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan seperti ini keluar kota, backpakers?? Sepertinya akan sangat seru dan berkesan, tapi sayang sampai sekarang rencana kami belum terlaksana. Mas Niko (paling kiri), Roni (tengah) , Kak Aries (tukang foto), suatu saat kita harus melaksanakan rencana ini J.

Bulutangkis VS Tenis

April 9th, 2008 by luhkitty

Bulutangkis adalah salah satu olahraga permainan yang cukup populer di Negara kita. Saya mulai belajar memainkan olahraga ini saat saya memilih ekstra kurikuler ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ekstrakurikuler sifatnya wajib, saya tidak tahu harus milih apa, akhirnya saya putuskan untuk ikut olahraga ini karena teman sebangku saya memilihnya dan dia seperrtinya sudah sangat mengenal olahraga ini, lumayan pasti ada yang ngajarin nantinya, pikir saya. Setelah dijalani ternyata olahraga indoor ini cukup menyenangkan, sampai sekarang saya masih menikmati memainkannya.

Sementara tenis, walaupun sama-sama menggunakan raket dan memukl bola hingga melewati net, permainan ini asing bagi saya. Saya baru pertama kali memainkannya pagi tadi. Saya diajak teman dan keluarganya yang rutin bermain tenis di hari rabu pagi, untuk mencoba permainan itu, dan saya sangat tertarik. Mungkin tidak akan jauh berbeda dengan bulutangkis, saya beranggapan.

Sampai di lapangan saya dipinjami raket oleh Bapak temen saya. Tanpa pikir panjang saya langsung mengambil bola, plok..berusaha memukul bola, mmm….bola memantul aneh . Hehehe..untung Bapak teman saya baik, ga merasa gimana gitu dengan sok bisa saya. Akhirnya beliau mencarikan saya pelatih yang ada di lapangan tersebut. Saya diajari mulai dari teknik memegang, melangkah dan memukul. Cukup lama, dan di akhir latihan saya belum pantas untuk bisa main beneran di lapangan.

Selain raket yang lebih besar dan berat serta bola yang digunakan juga memiliki massa yang lebih besar dibandingkan bulutangkis, teknik memukulya juga sangat jauh berbeda. Kalau bulutangkis tenaga pukulan berasal dari pergelangan tangan sedangkan kalau tenis kekuatan pukulan berasal dari lengan karena sepertinya pergelangan tangan tidak akan kuat mengayun lama untuk raket sebesar itu. Karena beberapa saat di awal saya belajar memukul, pergelangan tangan saya serasa nyeri. Cukup susah untuk memindahkan kebiasaan memukul dengan raket. Tapi sembari jalan tangan saya semakin bisa menyesuaikan walaupun seringkali pukulannya masih melenceng jauh.

Menyenangkan mengenal permainan olahraga ini. Tapi untuk melanjutkannya tentunya saya harus menyediakan perlengkapannya sendiri, tidak mungkin meminjam terus :-p. Dengan lapangan yang lebih luas sepertinya permainan ini akan memaksa untuk lebih banyak berlari dan mengeluarkan keringat. Hehehe…sesuatu untuk mengurangi gumpalan lemak di tubuh :-d.

Sekelumit Fakta Menyedihkan tentang Bali

March 21st, 2008 by luhkitty

Bali yang merupakan salah satu tujuan wisata yang paling tersohor di jagad ini, sudah menyimpan segudang cerita menyedihkan yang mengancam keberadaan Bali itu sendiri sebagai tujuan wisata terutama bagi keberlangsungan hidup Orang Bali itu sendiri. Saat pulang meNyepi kemarin saya sempat membeli sebuah buku yang berjudul “Ajeg Bali, Sebuah Cita-cita”, terdapat beberapa kenyataan tragis yang sedang berlangsung di Pulau Dewata ini. Tentunya itu sebuah gunung es yang hanya terlihat sekelumit namun di dasar gunungnya masih jauh untuk disentuh. Bahkan masih banyak gunung yang belum terlihat namun dalam waktu dekat akan segera mencuat ke permukaan.

  1. Pariwisata yang kurun waktu duapuluh tahun terakhir diagung-agungkan ternyata sangat rentan dengan factor eksternal yang dengan mudah membuatnya terpuruk. Hantaman bom terhadap Kuta memiliki efek yang luar biasa dalam meluluhlantakkan sendi-sendi pariwisata di Bali. Ribuan masyarakat Bali kehilangan lapangan pekerjaan dan PAD (Pendapatan Asli Daerah) daerah merosot tajam. Selain itu serangan 911 di Amrik, invasi terhadap Irak, SARS semakin membuat pariwisata kehilangan taringnya. Padahal seluruh potensi Bali sudah diarahkan untuk mendukung sector    tersebut. Sawah yang dulu hijau, dikapling-kapling untuk pembangunan hotel atau resor, pantai yang sebelumnya digunakan tempat prosesi upacara Agama Hindu ditembok karena diklaim oleh hotel, Pelaba pura yang merupakan kawasan suci ternyata direbut investor juga, bahkan bukit yang merupakan kawasan penyangga dikembangkan untuk hotel, vila, rumah makan dan sebagainya. Dengan kenyataan itu Pemerintah Daerah mulai berbenah, kembali melirik sector pertanian yang sempat ditinggalkan dan dianaktirikan. Sekian lama tidak diperhatikan, sector ini tidak dapat berbuat banyak untuk mendongkrak perekonomian daerah. Lahan-lahan subur sudah beralih fungsi, infrastruktur pertanian sangat minim, SDM terbatas dan permasalahan hama tanaman yang tidak pernah terselesaikan karena tidak pernah diperhatikan.

  1. Kehidupan Bali tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Agama Hindu. Secara konstan, jumlah penduduk yang beragama Hindu di Bali menurun. Pada tahun 1980 persentase penduduk Hindu mencapai 93,3%, menjadi 87,4% pada tahun 2000 atau turun rata-rata 0,3% tiap tahunnya.

  1. Sektor pertanian Bali juga belum dapat dibanggakan. Hotel dan restauran di Bali menggunakan produk impor untuk memenuhi kebutuhan daging, sayur, buah dan tanaman hias lainnya karena produk lokal berada di bawah standar kebutuhan mereka. Tidak heran para petani Bali tetap miskin, walaupun kebutuhan Bali akan produk pertanian tinggi. Jeruk Bali yang dulu sudah mengglobal, kini dikembangkan di Malaysia, Thailand, Vietnam, Cina, negara-negara di Eropa dan AS. Jeruk Bali sekarang sudah tidak ada di Bali. Akibat terserang batang berdarah, sehingga terjadi pergeseran plasma nutfah jeruk Bali keluar Bali. Sekarang tidak ada satu pun rumpun di Bali yang ditemukan.

  1. Pada sensus terakhir yang dilakukan oleh Taman Nasional Bali Barat tahun 2001 bahwa populasinya hanya tinggal 6 ekor di habitat aslinya. Dapat kita bayangkan jika semua yang hidup jantan atau semua betina.

  1. Bali telah menjadi showroom barang kerajinan luar. Sekarang banyak pengrajin dari luar Bali yang memanfaatkan Bali sebagai tempat pemasaran produk mereka.

  1. dan sepertinya masih banyak lagi hal lainnya

Seluruh pihak harus berbenah dan introspeksi diri jika menginginkan Bali tetap ajeg.

Surat Untuk Sahabat

March 19th, 2008 by luhkitty

Entah aku seorang sahabat yang baik atau bukan tapi aku memiliki sahabat yang sangat baik, yang selalu ada untukku di saat apapun. Aku selalu merasa aman selama masih ada dia. Dia sudah menemaniku sangat lama, lebih dari satu dasawarsa kita hampir selalu bersama. Dia tempatku bercerita, tempatku mengadu tentang apa saja. Kapanpun dia selalu ada untukku, mendengarkanku, membuatku tersenyum kembali.

Sekarang, karna banyak hal yang terjadi aku tidak bisa seperti itu lagi. Tak ada lagi tempatku mengadu, tak ada lagi tempatku bercerita hal-hal yang ga penting, dan tak ada lagi orang yang akan bersedia menemaniku kemanapun aku mau pergi. Maafkan aku sahabat, jika aku sudah pernah melukaimu, membuatmu tidak bisa dekat lagi denganku. Aku selalu menanti saat-saat kita bisa bersama lagi.

Nyepi Di Panji

March 13th, 2008 by luhkitty

Lebih dari seminggu kemarin saya berada di desa saya tercinta, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Bali . Saya pulang untuk merayakan hari raya Nyepi (kok Nyepi dirayakan, mungkin menyambut lebih tepat ya..). Tahun ini Nyepi jatuh pada hari jumat tanggal 7 Maret.

Seperti pada umumnya rangkaian perayaan Nyepi, secara garis besar ada Mekiyis, Pengrupukan, Mati Geni, dan NGembak Geni. Di Panji, mungkin agak berbeda dengan tempat lain, mekiyis dilaksanakan pada hari Tilem Kesanga, yakni sehari sebelum Mati Geni, yang diikuti oleh seluruh umat di Desa Panji dengan mengusung praline puranya masing-masing. Mekiyis ini dimulai dari Pura Desa Panji, dan akan berakhir di Pura Segara Penimbangan Desa Panji, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 5-6 km. Tidak semua rombongan start di Pura Desa, hanya Betara Desa, para Gerebek (pasukan bertumbak pengawal dari prosesi mekiyis ini), selainnya bergabung di tengah jalan sepanjang antara Pura Desa dan Pura Segara Penimbangan.

Mekiyis yang kemarin saya ikuti, terasa kurang tertib dan kurang teratur. Masing-masing rombongan bebas menyela rombongan yang lain, dan terkesan saling mengejar, terburu-buru untuk segera sampai di tempat tujuan, sehingga semuanya terkesan berlari-larian. Kurang nyaman untuk sebuah melasti. Sesampainya di Pura Segara, kekurangteraturan terlihat kembali, dimana tidak dilaksanakan persembahyangan bersama, masing-masing rombongan sembahyang sendiri-sendiri, hanya nunas tirtanya dari satu tempat yakni di Pura Segara. Setelah itu kita bubas masing-masing, tergantung cepat tidaknya selesai melaksanakan persembahyangan. Pulangnya, masing-masing rombongan telah menyiapkan kendaraan sendiri, untuk kembali melakukan penyimpenan pralina di pura atau sanggah masing-masing.

Malamnya merupakan malam pengrupukan untuk membersihkan buana agung kita dari pengaruh-pengaruh negatif dari mahluk-mahluk yang lebih rendah dari manusia sehingga nantinya manusia dapat menjalankan ritual Brata Penyepian dengan tenang dan damai. Malam pengrupukan ini ditandai dengan pengusungan ogoh-ogoh ke seluruh pelosok desa. Ogoh-ogoh adalah perwujudan butha kala dalam bentuk boneka raksasa yang menyeramkan. Ogoh-ogoh tersebut dibuat oleh pemuda-pemudi dari banjar-banjar yang ada di Desa Panji. Desa Panji terdiri dari 6 (enam) banjar yakni Banjar Mandul, Banjar Dauh Pura (tempat tinggal saya), Banjar Dangin Pura, Banjar Kelod Kauh, Banjar Bangah, dan Banjar Babakan. Sebelum diarak ogoh-ogoh tersebut berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Desa Panji untuk mendapat pengarahan dari para tokoh desa baik Kepala Desa Dinas maupun Klian Desa Adat. Jumlah ogoh-ogoh yang hadir di lapangan tersebut mencapai 18 (delapan belas) buah, cukup banyak juga. Sepintas dari pengarahan yang diberikan olah Kepala Desa bahwa tahun depan ogoh-ogoh ini akan dilombakan, namun mekanisme perlombaannya seperti apa akan ditetapkan kemudian.

Hiruk pikuk di lapangan benar-benar terasa, masing-masing ogoh-ogoh menunjukkan kebolehannya, dalam hal ini terkait dengan instrumen-instrumen pendukung yang di bawanya. Mulai dari baleganjur, topeng celuluk, topeng rangda, serta kembang api dengan aneka jenis. Instrumen terakhir ini yang menjadi andalan ogoh-ogoh dari banjar saya karena memang kami tidak memiliki yang lainnya, hehe… Kedelapan belas ogoh-ogoh tersebut memiliki bentuk yang beragam namun secara artistik mungkin masih kurang, maklum biaya minim dan yang mengerjakan juga sebagian besar pemuda tanggung yang minim pengalaman (Maaf kalo saya salah). Beberapa ada yang bagus, terutama yang dari banjar saya (hehehe…ini serius lho, komentar objektif dari banyak orang), ada yang belum sempat diarak sudah patah dan harus dibakar di tempat, sayang sekali, pasti pemiliknya dongkol banget. Malam pegrupukan akhirnya berakhir dengan pembakaran masing-masing ogoh-ogoh setelah berkeliling, dan bersiap untuk menyambut hari Mati Geni keesokan harinya.

Dulu, sewaktu saya kecil sampai SMP kalau ga salah, Desa Panji memiliki kebiasaan unik saat Nyepi. Kelengangan jalan malah merupakan kesempatan masyarakat untuk jalan-jalan sepuasnya, mengunjungi kerabat dekat sampai maen selodor di jalan, hehe… Tapi seiring meningkatnya pengetahuan masyarakat maka kebiasaan-kebiasaan tersebut sudah mulai ditinggalkan, masyarakat semakin bisa mamaknai hari raya nyepi dan melakukan tapa brata penyepian.

Keesokan harinya, Hari Ngembak Geni, ada tradisi unik juga di desa saya ini, yakni adanya kegiatan Megoak-goakan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak kumpi saya masih muda, dan saat neneknya kumpi muda juga udah ada, he… Seinget saya megoak-goakan adalah bagian dari acara pesta rakyat ketika Raja Buleleng menabuhkan genderang perang melawan Kerajaan Blambangan, dimana goak ini boleh meminta apa saja sebelum maju ke medan perang. Entah berawal dari cerita ini, tetapi megoak-goakan lebih ke arah hiburan dan bersenang-senang.

Acara megoak-goakan terdiri dari beberapa orang yang membentuk barisan, dan saling memegang satu sama lain. Masing-masing orang memakai sabuk (ikat pinggang) yang akan menjadi pegangan orang yang dibelakangnya. Sabuk yang digunakan harus senyaman mungkin sehingga saat ditarik oleh teman tidak menyakitkan. Orang yang berada paling depan (Kepala Goak) bertugas untuk menngejar Kacang (orang yang berada paling belakang), sehingga akan terjadi tarik menarik antar pemain, bagian inilah yang membuat badan pemain akan pegal-pegal namun katanya inilah serunya permainan ini. Media bermain dalam acara megoak-goakan ini umumnya berupa tanah yang tergenangi air. Karena dilaksanakannya di lapangan Desa Pani maka untuk mengairinya maka para pemain sebelumnya harus membendung air sungai yang berada di dekatnya. Hehe..makanya saat Ngembak Geni, para petani harus mengalah karena mau ga mau air harus dialirkan ke sungai tersebut.

Megoak-goakan biasanya terbagi dua kelompok kelompok ana-anak dan kelompok remaja dan dewasa. Sumur-umur saya baru pernah ikut sekali, itu juga untuk bayar kaul gara-gara lulus ITB. Bukan apa-apa, saya masih ngeri membayangkan badan ditarik-tarik dan terkadang terpental kalau pegangan kita tidak kuat. Di samping itu badan saya rentan terserang flu, bermain-main di atas genangan air tersebut, sudah dapat dipastikan saya akan menderita flu berat (hehe…bukan pembenaran lho..).

Begitulah kira-kira Nyepi di desa saya, Desa Panji. Tradisi megoak-goakan maíz berusaha dipertahankan walaupun karena banyak faktor semakin kesini peminatnya semakin menurun. Namur saya selalu setia untuk menontonnya, walaupun dengan perasaan was-was, karena sah-sah saja mereka (para pemain) untuk menyeret dan memaksa penonton untuk ikutan bermain (serem kan…).