Sekelumit Fakta Menyedihkan tentang Bali

Bali yang merupakan salah satu tujuan wisata yang paling tersohor di jagad ini, sudah menyimpan segudang cerita menyedihkan yang mengancam keberadaan Bali itu sendiri sebagai tujuan wisata terutama bagi keberlangsungan hidup Orang Bali itu sendiri. Saat pulang meNyepi kemarin saya sempat membeli sebuah buku yang berjudul “Ajeg Bali, Sebuah Cita-cita”, terdapat beberapa kenyataan tragis yang sedang berlangsung di Pulau Dewata ini. Tentunya itu sebuah gunung es yang hanya terlihat sekelumit namun di dasar gunungnya masih jauh untuk disentuh. Bahkan masih banyak gunung yang belum terlihat namun dalam waktu dekat akan segera mencuat ke permukaan.

  1. Pariwisata yang kurun waktu duapuluh tahun terakhir diagung-agungkan ternyata sangat rentan dengan factor eksternal yang dengan mudah membuatnya terpuruk. Hantaman bom terhadap Kuta memiliki efek yang luar biasa dalam meluluhlantakkan sendi-sendi pariwisata di Bali. Ribuan masyarakat Bali kehilangan lapangan pekerjaan dan PAD (Pendapatan Asli Daerah) daerah merosot tajam. Selain itu serangan 911 di Amrik, invasi terhadap Irak, SARS semakin membuat pariwisata kehilangan taringnya. Padahal seluruh potensi Bali sudah diarahkan untuk mendukung sector    tersebut. Sawah yang dulu hijau, dikapling-kapling untuk pembangunan hotel atau resor, pantai yang sebelumnya digunakan tempat prosesi upacara Agama Hindu ditembok karena diklaim oleh hotel, Pelaba pura yang merupakan kawasan suci ternyata direbut investor juga, bahkan bukit yang merupakan kawasan penyangga dikembangkan untuk hotel, vila, rumah makan dan sebagainya. Dengan kenyataan itu Pemerintah Daerah mulai berbenah, kembali melirik sector pertanian yang sempat ditinggalkan dan dianaktirikan. Sekian lama tidak diperhatikan, sector ini tidak dapat berbuat banyak untuk mendongkrak perekonomian daerah. Lahan-lahan subur sudah beralih fungsi, infrastruktur pertanian sangat minim, SDM terbatas dan permasalahan hama tanaman yang tidak pernah terselesaikan karena tidak pernah diperhatikan.

  1. Kehidupan Bali tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Agama Hindu. Secara konstan, jumlah penduduk yang beragama Hindu di Bali menurun. Pada tahun 1980 persentase penduduk Hindu mencapai 93,3%, menjadi 87,4% pada tahun 2000 atau turun rata-rata 0,3% tiap tahunnya.

  1. Sektor pertanian Bali juga belum dapat dibanggakan. Hotel dan restauran di Bali menggunakan produk impor untuk memenuhi kebutuhan daging, sayur, buah dan tanaman hias lainnya karena produk lokal berada di bawah standar kebutuhan mereka. Tidak heran para petani Bali tetap miskin, walaupun kebutuhan Bali akan produk pertanian tinggi. Jeruk Bali yang dulu sudah mengglobal, kini dikembangkan di Malaysia, Thailand, Vietnam, Cina, negara-negara di Eropa dan AS. Jeruk Bali sekarang sudah tidak ada di Bali. Akibat terserang batang berdarah, sehingga terjadi pergeseran plasma nutfah jeruk Bali keluar Bali. Sekarang tidak ada satu pun rumpun di Bali yang ditemukan.

  1. Pada sensus terakhir yang dilakukan oleh Taman Nasional Bali Barat tahun 2001 bahwa populasinya hanya tinggal 6 ekor di habitat aslinya. Dapat kita bayangkan jika semua yang hidup jantan atau semua betina.

  1. Bali telah menjadi showroom barang kerajinan luar. Sekarang banyak pengrajin dari luar Bali yang memanfaatkan Bali sebagai tempat pemasaran produk mereka.

  1. dan sepertinya masih banyak lagi hal lainnya

Seluruh pihak harus berbenah dan introspeksi diri jika menginginkan Bali tetap ajeg.

One Response to “Sekelumit Fakta Menyedihkan tentang Bali”

  1. Begi Says:

    Seluruh pihak memang harus berbenah dan introspeksi diri jika menginginkan bali tetap ajeg, termasuk kamu lho Kit (sebagai putri daerah).

    Ayo, jadilah salah satu penggerak sehingga orang Bali dapat berdikari di tanahnya sendiri. Memang lucu kalau produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan pariwisata bali diimpor dari daerah lain. Padahal kan sebenarnya masih bisa diusahakan di Bali sendiri. Masalahnya ya karena kita sendiri tidak mau mengusahakannya (mudah2an dikau setuju pernyataan ini). Dan bukan hanya pertanian, tapi bidang2 yang lain juga.

    Jujur saja, kita orang Bali lebih bangga ada label PNS dipundak kita. Lebih bahagia menjadi pegawai sebuah perusahaan. Diibaratkan Bali ini sebagai kolam dengan ikan yang melimpah, maka kebanyakan dari kita sudah puas sebagai si pemberi makan ikan2 itu sampai gemuk… dan melepaskan kesempatan untuk menangkap ikan itu, menjualnya, atau ikut menikmati kelezatannya…

    Kalau orang2 bali mampu berkuasa atas roda perekonomian di daerahnya sendiri maka seyogyanya ajeg bali itu lebih memungkinkan untuk terwujud. Kita tidak akan menjual lagi bukit, gunung. Kita tidak akan lagi mengkavling pantai, kita tidak akan lagi menjual pelaba pura (gimana mau ngejual… kan takut kepada ida betara sesuhunan,heheheheh—rasa takut terkadang memang perlu juga toh).

    Petani tidak akan lagi menjual sawahnya/tegalannya karena telah menjadi aset yang mampu mendatangkan penghasilan yang mencukupi (kapan yah hal ini bisa terwujud…….).

    Pokoke, jeg hidup bali deh Kit….. mudah2an kita bisa mewujudkan ajeg bali… (tentu saja dimulai dari diri sendiri dengan mengubah paradigma kita)

Leave a Reply