<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Sekelumit Fakta Menyedihkan tentang Bali</title>
	<atom:link href="http://luhkitty.blog.friendster.com/2008/03/sekelumit-fakta-menyedihkan-tentang-bali/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luhkitty.blog.friendster.com/2008/03/sekelumit-fakta-menyedihkan-tentang-bali/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 14:31:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Begi</title>
		<link>http://luhkitty.blog.friendster.com/2008/03/sekelumit-fakta-menyedihkan-tentang-bali/#comment-7</link>
		<dc:creator>Begi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 10:06:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://luhkitty.blog.friendster.com/2008/03/sekelumit-fakta-menyedihkan-tentang-bali/#comment-7</guid>
		<description>Seluruh pihak memang harus berbenah dan introspeksi diri jika menginginkan bali tetap ajeg, termasuk kamu lho Kit (sebagai putri daerah).

Ayo, jadilah salah satu penggerak sehingga orang Bali dapat berdikari di tanahnya sendiri. Memang lucu kalau produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan pariwisata bali diimpor dari daerah lain. Padahal kan sebenarnya masih bisa diusahakan di Bali sendiri. Masalahnya ya karena kita sendiri tidak mau mengusahakannya (mudah2an dikau setuju pernyataan ini). Dan bukan hanya pertanian, tapi bidang2 yang lain juga.

Jujur saja, kita orang Bali lebih bangga ada label PNS dipundak kita. Lebih bahagia menjadi pegawai sebuah perusahaan. Diibaratkan Bali ini sebagai kolam dengan ikan yang melimpah, maka kebanyakan dari kita sudah puas sebagai si pemberi makan ikan2 itu sampai gemuk... dan melepaskan kesempatan untuk menangkap ikan itu, menjualnya, atau ikut menikmati kelezatannya...

Kalau orang2 bali mampu berkuasa atas roda perekonomian di daerahnya sendiri maka seyogyanya ajeg bali itu lebih memungkinkan untuk terwujud. Kita tidak akan menjual lagi bukit, gunung. Kita tidak akan lagi mengkavling pantai, kita tidak akan lagi menjual pelaba pura (gimana mau ngejual... kan takut kepada ida betara sesuhunan,heheheheh---rasa takut terkadang memang perlu juga toh).

Petani tidak akan lagi menjual sawahnya/tegalannya karena telah menjadi aset yang mampu mendatangkan penghasilan yang mencukupi (kapan yah hal ini bisa terwujud.......).

Pokoke, jeg hidup bali deh Kit..... mudah2an kita bisa mewujudkan ajeg bali... (tentu saja dimulai dari diri sendiri dengan mengubah paradigma kita)
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seluruh pihak memang harus berbenah dan introspeksi diri jika menginginkan bali tetap ajeg, termasuk kamu lho Kit (sebagai putri daerah).</p>
<p>Ayo, jadilah salah satu penggerak sehingga orang Bali dapat berdikari di tanahnya sendiri. Memang lucu kalau produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan pariwisata bali diimpor dari daerah lain. Padahal kan sebenarnya masih bisa diusahakan di Bali sendiri. Masalahnya ya karena kita sendiri tidak mau mengusahakannya (mudah2an dikau setuju pernyataan ini). Dan bukan hanya pertanian, tapi bidang2 yang lain juga.</p>
<p>Jujur saja, kita orang Bali lebih bangga ada label PNS dipundak kita. Lebih bahagia menjadi pegawai sebuah perusahaan. Diibaratkan Bali ini sebagai kolam dengan ikan yang melimpah, maka kebanyakan dari kita sudah puas sebagai si pemberi makan ikan2 itu sampai gemuk&#8230; dan melepaskan kesempatan untuk menangkap ikan itu, menjualnya, atau ikut menikmati kelezatannya&#8230;</p>
<p>Kalau orang2 bali mampu berkuasa atas roda perekonomian di daerahnya sendiri maka seyogyanya ajeg bali itu lebih memungkinkan untuk terwujud. Kita tidak akan menjual lagi bukit, gunung. Kita tidak akan lagi mengkavling pantai, kita tidak akan lagi menjual pelaba pura (gimana mau ngejual&#8230; kan takut kepada ida betara sesuhunan,heheheheh&#8212;rasa takut terkadang memang perlu juga toh).</p>
<p>Petani tidak akan lagi menjual sawahnya/tegalannya karena telah menjadi aset yang mampu mendatangkan penghasilan yang mencukupi (kapan yah hal ini bisa terwujud&#8230;&#8230;.).</p>
<p>Pokoke, jeg hidup bali deh Kit&#8230;.. mudah2an kita bisa mewujudkan ajeg bali&#8230; (tentu saja dimulai dari diri sendiri dengan mengubah paradigma kita)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
