Ngompreng Maribaya-Lembang

Hari minggu kemarin, teman saya membeli kamera digital di BEC dan mendapat voucher cuci cetak foto digital sebanyak 100 lembar foto ukuran 3R sampai akhir april. Berhubung dia menetap di seberang pulau, hanya ke Bandung untuk weekend dia memberikan voucher itu kepada saya. Lumayan, sudah sangat lama saya tidak punya dokumentasi berupa hard copy, biasanya asal jepret dan disimpan di hard disk.

Akhirnya saya membuka file-file foto saya, terutama foto narcis, hehehe… Ternyata saya emang narcis, karena sebagian file foto tersebut pasti ada gambar saya, sangat jarang mengenai objek atau panorama seperti wisatawan profesional pada umumnya. Hehe..saya jadi ingat salah satu mata kuliah saya dulu, Perencanaan Pengembangan Pariwisata. Kata dosen saya yang ngasi kuliah, beda wisatawan domestik dan wisatawan manca negara terletak pada objek yang difotonya. Kalan wisatawan manca negara pasti berburu foto keren dan objek yang dikunjunginya, sedangkan kalau wisatawan domestik juga berburu foto objek namun dilengkapi dengan foto dirinya, sebagai bukti kalau dia pernah menginjakkan kakinya disana J.

Balik lagi ke topik awal, ada salah satu foto yang menarik dari folder foto saya. Tentunya bukan sekedar tampilan gambarnya, tetapi juga kenangan di balik gambar tersebut. Foto-foto yang saya maksud adalah fotoP9220066 di saat saya dan teman-teman sekantor saya kabur sore-sore dari kantor untuk jalan-jalan ke Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda atau lebih dikenal dengan sebutan Dago Pakar. Iya, jalan dalam arti harfiah karena kita merencanakan untuk berjalan kaki dari Dago Pakar sampai Maribaya dan lanjut ke Lembang.

Kami pergi berempat, dan saya cewek sendiri J. Mungkin akan lebih segar udaranya kalau kami melaksanakan perjalanan ini di pagi hari, tapi sudP9220118_1ahlah karena saan weekend, masing-masing sudah punya acara sendiri sehingga kami memilih pergi di jumat sore. Dan sepertinya perjalanan kami memang terlalu sore sehingga kami sampai di Maribaya saat matahari sudah hampir tenggelam, alias remang-remang. Tapi saya masih sempat foto, hehe…gelap kan. Suasana Maribaya hanya kami lewatkan sepintas lalu sembari istirahat sejenak untuk teman-teman saya melaksanakan ibadah sholat magrib.

Sampai di pelataran Maribaya sudah dipastikan tidak ada angkot lagi, dan wajah-wajah kami sudah menunjukkan keengganaan tingkat tinggi untuk jalan kaki menuju Lembang, ditambah suasana yang sudah gelaP9220126p. Teman saya ada ide, ngompreng!!. Semua diantara kami belum pernah merasakan ngompreng, dan semuanya excited. Mencari mobil omprengan tidak gampang, tidak semua kendaraan yang lewat mau ditumpangi, mungkin mereka juga ragu-ragu mengangkut kami, aneh wisatawan kok jalan kaki semalam ini. Cukup lama menunggu, akhirnya ada mobil pick up yang bersedia mengangkut kami, dan dreng…deng…kita naik bak terbuka malam-malam. Dingiiin…..

Seperti hal bodoh, tapi sangat menyenangkan, melakukan hal-hal yang belum atau jarang dilakukan, apalagi rame-rame. Saat di bak pick up tersebut kami langsung membicarakan, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan seperti ini keluar kota, backpakers?? Sepertinya akan sangat seru dan berkesan, tapi sayang sampai sekarang rencana kami belum terlaksana. Mas Niko (paling kiri), Roni (tengah) , Kak Aries (tukang foto), suatu saat kita harus melaksanakan rencana ini J.

Comments are closed.