Berwisata ke Bali saat Perayaan Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setahun
sekali. Hari Raya Nyepi diperingati untuk menyambut pergantian Tahun Çaka yang
berselisih 78 (tujuh puluh tahun) tahun dengan Tahun Masehi. Jadi Hari Raya
Nyepi Tahun ini adalah Hari Raya Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Çaka 1930.
Sistem perhitungan Tahun Çaka dan Tahun Masehi berbeda sehingga Hari Raya Nyepi
tidak tepat jatuh pada tanggal yang sama tiap tahunnya. Tahun 2008 ini Hari
Raya Nyepi jatuh pada tanggal 7 Maret.
Hari Raya Nyepi identik dengan kesunyian, keheningan, dan perenungan akan
hal-hal yang sudah terjadi pada masa lampau. Bali sebagai daerah tujuan wisata
dunia seakan mati suri sejenak, untuk merayakan pergantian tahun ini. Seluruh aktivitas
dihentikan selama kurang lebih dua puluh empat jam. Pelabuhan, bandara,
terminal yang biasanya penuh sesak dengan aktivitas keberangkatan dan
kedatangan ditutup sementara. Hening, sepi, tenang dan tenteram.
Keheningan dan kesunyian itu tidak membuat para wisatawan urung mengunjungi
Bali saat itu. Karena dilihat dari penjualan tiket pesawat menuju Bali
menjelang Hari Raya Nyepi meningkat tajam. Disamping kepulangan dari orang Bali
yang berdomisili di luar Bali untuk berkumpul bersama keluarga, kunjungan ke
Bali juga dipenuhi oleh para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Apa
yang mereka cari? Ternyata suasana hening dan sepi tersebut menjadi daya tarik
tersendiri bagi para pecinta Bali. Suasana yang mungkin hanya bisa ditemukan di
Bali dan terjadi satu tahun sekali, tidak ingin mereka lewatkan. Mereka mencari
dan menikmati aktivitas hening tersebut, yang mungkin menjadi barang mahal bagi
mereka-mereka yang selalu dijejali rutinitas dalam kesehariannya.
Untuk menikmati suasana hening tersebut, tentunya wisatawan harus datang
beberapa hari sebelum hari H, sebelum bandara dan gerbang kedatangan lainnya
ditutup. Nyepi sendiri memiliki rangkaian ritual keagamaan beberapa hari
menjelang dan sesudah hari H yang juga sayang untuk dilewatkan. Sehari menjelang
Hari Nyepi, terdapat ritual ”Mecaru Agung”,
yakni pembersihan jagad alam dari unsur-unsur negatif sehingga kedamaian
menyelimuti bumi ini. Malam harinya akan ada parade atau arak-arakan ogoh-ogoh pada masing-masing desa adat
di Bali. Ogoh-ogoh adalah simbolisme kekuatan atau pengaruh jahat di alam ini
yang harus diminimalisir pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Ogoh-ogoh ini
umumnya diwujudkan berupa raksasa berwajah sangar dan seram, yang pada akhir
prosesi acara akan dibakar di setra
(tempat pemakaman umum) masing-masing desa adat. Desa adat adalah perangkat
desa atau kelurahan yang bertanggungjawab untuk mengurus hal-hal yang berkaitan
dengan kehidupan adat dan agama masyarakat Bali.
Parade ogoh-ogoh ini merupakan salah satu acara favorit saat merayakan
Nyepi, tidak hanya bagi bagi wisatawan yang menganggapnya langka tetapi juga
masyarakat Bali sendiri, khususnya kaula muda. Proses dari awal pembuatan ogoh-ogoh sampai akhirnya diusung merupakan ajang bagi pemuda pemudi untuk
berkreasi, berusaha memberikan yang terbaik. Tidak jarang di beberapa tempat
parade ogoh-ogoh ini dilombakan. Parade ini biasanya dikoordinasikan oleh
masing-masing desa adat dan rutenya juga diatur sehingga tidak terjadi gesekan
diantara para peserta.

Pada saat parade berlangsung, para wisatawan umumnya berusaha
mengabadikannya dalam handycam, digicam, bahkan tidak jarang diantara mereka
ingin ikut mengusung ogoh-ogoh tersebut. Biasanya wisatawan tersebut sudah
datang jauh-jauh hari sebelum parade berlangsung, sehingga bisa melakukan
pendekatan dan berbaur dengan masyarakat setempat. Ada kenikmatan tersendiri
dalam mengusung ogoh-ogoh tersebut. Kebersamaan, kegembiraan dan kehidmatan,
karena inti dari parade tersebut adalah menyucikan alam dan jiwa manusia untuk
menjadi lebih baik pada tahun selanjutnya.
Keesokan harinya, puncak Hari Raya Nyepi. Sepi. Satu hari dalam setahun
kita diperbolehkan untuk tidak melakukan apa-apa dalam hidup. Satu hari dalam
setahun kita diberikan kesempatan yang sangat leluasa untuk merenungkan hal-hal
yang sudah dan akan kita lakukan. Satu hari untuk mengistirahatkan jiwa, raga
dan roda kehidupan manusia. Inilah yang dinanti dan ingin dinikmati oleh
wisatawan yang meluangkan waktunya menyepi di Bali. Mungkin bisa-bisa saja jika
kita melakukan acara menyepi ini dimana saja. Namun ketika hanya kita yang
berhenti sementara lingkungan di sekeliling kita masih berputar dengan
kencangnya, akankah kita masih bisa mendapatkan ruang yang cukup untuk sekedar
merenung. Namun ketika di hari itu kita di Bali, lingkungan sekitar kita yang
berhenti sejenak, memberikan waktu dan ruang kepada kita manusia dalam mencari
tahu siapa dan dimana kita saat ini.
Selain mendapat keheningan dan kenikmatan yang luar biasa, keesokan
harinya, kita bisa bersantai menikmati alam dan budaya Bali, dengan pikiran
jernih setelah sehari penuh kita mengistirahatkannya. Pilihan berwisata lebih
beragam karena bukan saja kita bisa menikmati alam Bali namun atraksi ritual
dan budaya sebagai rangkain dari perayaan Nyepi banyak diselenggarakan. Di
Denpasar ada acara med-medan, dimana
antara seorang pemuda dan pemudi dipertemukan untuk berciuman di bawah guyuran
air. Tentunya bukan sembarangan cium, ada aturan adat yang mengaturnya. Selain
itu, di salah satu desa di Kabupaten Buleleng, yakni Desa Panji juga terdapat
tradisi unik sehari setelah Nyepi, yakni acara megoak-goakan. Acara tersebut melibatkan anak-anak muda di desa
tersebut. Mereka mengisi lapangan bola dengan air (membendung air sungai di
sebelah lapangan), lalu beberapa orang membentuk barisan, saling berpegangan
erat, untuk kemudian orang yang paling depan bertugas mengejar orang yang
paling belakang. Acara ini meriah karena tidak sedikit dari peserta yang
terlempar dan terbanting saat pengejaran dilakukan. Namun karena dialasi oleh air,
bantingan tidak terlalu menyisakan rasa sakit. Masih banyak ritual dan
kebiasaan lainnya dalam merayakan pergantian tahun ini.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kesenangan, namun
kesenangan tersebut akan lebih bermakna jika kita bisa meraihnya pada tiap
tahapan hidup yang kita lalui. Entah itu ketika kesunyian merengkuh maupun saat
dikelilingi oleh keramaian. Jadi segeralah susun rencana untuk menikmati
kesenangan itu, dan tidak ada salahnya itu direncanakan di bulan Maret tahun
depan.
10/03/08