Tahun 2007 banyak memberikan pengalaman baru padaku, begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya, namun tahun ini terasa lebih berbeda.
Di tahun ini aku mendapat kesempatan bepergian ke dua daerah baru di luar Pulau Jawa, sehubungan dengan pekerjaanku, yang memberikan kesan dan pengetahuan tersendiri bagiku.
Medan, kota pertama di Pulau Sumatera yang kukunjungi. Horas!! Ini Medan Bung!!!
Bayangan awalku tentang kota ini adalah kota yang didominasi oleh orang batak, keras, dan metropolis, secara kalo ga salah kota ini adalah kota ketigaa di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Tapi ternyata tidak semua dugaanku benar.
Ternyata Medan bukan Batak, tapi Melayu, Jawa serta bangsa China.. sebagian besar orang Batak berdomisili di luar Kota Medan, seperti di Deli, Binjai, Karo, Prapat, Simalungun dan kabupaten lainnya di sekitar Kota Medan.
Keras, iya, bahasa mereka memang keras dalam artian tegas dan apa adanya. Bagi kita pendatang, awalnya pasti kaget, kita salah apa sih, knapa mereka marah-marah mulu?!
Hehehe…itulah keragaman budaya…
Metropolis, mm…masih jauh ya kayaknya… pola jaringan jalan memang mendukung, potensi lokasi juga menopang perkembangan kota dimana, aksesibilitas yang sangat tinggi baik ke kota-kota di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Namun dari sisi infrastruktur masih jauh, bayangkan disana tiap harinya bisa sampai 3 atau 4 kali mati lampu selama 4 jam, is that metropolis?! Bisnis generator sangat menjanjikan di kota ini, .
Batam, kota selanjutnya yang aku kunjungi. Kesan pertamaku, Kota Maksa!!
Perubahan paradigma tentang wilayah perbatasan mengakibatkan perubahan drastis pada wilayah ini. Wilayah perbatasan dulunya diperuntukkan untuk kawasan lindung, namun pergeseran paradigma bahwa daerah perbatasan adalah pintu gerbang utama bagi suatu negara sehingga perlu dipoles dan divermak sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan waah…
Namun apa daya, topografi wilayah tidak mampu memberikan dukungan yang optimal untuk pengembangan kawasan perkotaan sehingga kota yang dilahirkan terkesan kaku dan tidak harmonis. Tebing dan bukit dipangkas guna menghasilkan lahan datar yang siap dibangun untuk aktivitas perkotaan. Daerah resapan air sudah tidak dihiraukan lagi, entah seperti apa masa depan kota ini.
Dari itu semua satu hal yang pasti, ternyata Bandung itu masih jauh lebih nyaman daripada tempat lain, hehehe…