Hari Yang Cerah…

February 23rd, 2008 by luhkitty

Pagi ini, udara pagi begitu segar, matahari terasa bersahabat dan dunia terasa tersenyum manis kepadaku. Kumelangkah ringan, dengan penuh senyum, aku lega…

Ku berjanji, ku kan memulai hidup baru yang lebih bermakna, memulai dari titik terbawah yang pernah kualami untuk terus menapakinya, dengan pasti. You just have some litlle faith that can make it right . It’s just the beginning, why you must so buried. It should be make you more though and enjoy your life. Open your heart, and you’ll find the glory…

King of Fruits

February 22nd, 2008 by luhkitty

Kalo si raja rimba itu singa, maka rajanya buah-buahan adalah duren, ada yang ngga setuju??.

Duren adalah salah satu buah favoritku, dan tentunya juga favorit banyak orang lainnya.
Duren diakui merupakan buah yang berasal dari Asia Tenggara khususnya Indonesia (Duren), Malaysia (Durian) dan Thailand (Thurian). Bahkan ada yang menyebutkan kalau di Indonesia ada 4 musim yakni musim kemarau, musim hujan, musim kawin, dan musim duren.

Bagi penggemar durian, salah satunya saya, memakan durian merupakan suatu kenikmatan tersendiri yang sulit dilukiskan, sebaliknya untuk sebagian orang, dia lebih baik mati dibandingkan harus mencium bau buah ini (kalo ini terlalu berlebihan, hehehe…).

Duren adalah buah yang emosional, baunya membuat orang yang suka semakin mendekat, dan orang yang anti semakin menjauh. Duren memiliki rasa lezat yang khas, berwarna krem dan wangi yang menggiurkan. Menurut “ahli durian”, ada beberapa resep memilih duren:
1. Pilih yang bulat. Buah yang cekung menunjukkan kalau bagian tersebut tidak ada buahnya.
2. Pukul-pukul ujung bawah duren dengan pisau. Duren yang manis akan memberikan bunyi ‘beg-beg-beg’.
3. Cium ujung bawah duren, jika wangi tandanya duren layak dibeli.
4. Jangan pilih buah yang ujungnya sudah retak atau terbelah. Biasanya rasanya ‘anyep’ atau dingin.
5. Warna duren tidak berpengaruh pada rasa duren.

Jadi jangan sampai salah pilih ya…

Jalan-Jalan di tahun 2007

December 23rd, 2007 by luhkitty

Tahun 2007 banyak memberikan pengalaman baru padaku, begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya, namun tahun ini terasa lebih berbeda.

Di tahun ini aku mendapat kesempatan bepergian ke dua daerah baru di luar Pulau Jawa, sehubungan dengan pekerjaanku, yang memberikan kesan dan pengetahuan tersendiri bagiku.

Medan, kota pertama di Pulau Sumatera yang kukunjungi. Horas!! Ini Medan Bung!!!

Bayangan awalku tentang kota ini adalah kota yang didominasi oleh orang batak, keras, dan metropolis, secara kalo ga salah kota ini adalah kota ketigaa di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Tapi ternyata tidak semua dugaanku benar.

Ternyata Medan bukan Batak, tapi Melayu, Jawa serta bangsa China.. sebagian besar orang Batak berdomisili di luar Kota Medan, seperti di Deli, Binjai, Karo, Prapat, Simalungun dan kabupaten lainnya di sekitar Kota Medan.

Keras, iya, bahasa mereka memang keras dalam artian tegas dan apa adanya. Bagi kita pendatang, awalnya pasti kaget, kita salah apa sih, knapa mereka marah-marah mulu?!
Hehehe…itulah keragaman budaya…

Metropolis, mm…masih jauh ya kayaknya… pola jaringan jalan memang mendukung, potensi lokasi juga menopang perkembangan kota dimana, aksesibilitas yang sangat tinggi baik ke kota-kota di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Namun dari sisi infrastruktur masih jauh, bayangkan disana tiap harinya bisa sampai 3 atau 4 kali mati lampu selama 4 jam, is that metropolis?! Bisnis generator sangat menjanjikan di kota ini, .

Batam, kota selanjutnya yang aku kunjungi. Kesan pertamaku, Kota Maksa!!
Perubahan paradigma tentang wilayah perbatasan mengakibatkan perubahan drastis pada wilayah ini. Wilayah perbatasan dulunya diperuntukkan untuk kawasan lindung, namun pergeseran paradigma bahwa daerah perbatasan adalah pintu gerbang utama bagi suatu negara sehingga perlu dipoles dan divermak sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan waah…

Namun apa daya, topografi wilayah tidak mampu memberikan dukungan yang optimal untuk pengembangan kawasan perkotaan sehingga kota yang dilahirkan terkesan kaku dan tidak harmonis. Tebing dan bukit dipangkas guna menghasilkan lahan datar yang siap dibangun untuk aktivitas perkotaan. Daerah resapan air sudah tidak dihiraukan lagi, entah seperti apa masa depan kota ini.

Dari itu semua satu hal yang pasti, ternyata Bandung itu masih jauh lebih nyaman daripada tempat lain, hehehe…